Dari Keluarga Sederhana, Lulus Memuaskan Di Singapura : Kisah Dewi Suryana (1)

Dari Keluarga Sederhana, Lulus Memuaskan di Singapura : Kisah Dewi Suryana (1)

SINGAPURA, KOMPAS.com - Dewi Suryana tidak menyangka bakal meraih predikat bergengsi dan menjadi lulusan S-1 tercepat di Fakultas Teknik Nanyang Technological University (NTU) Singapura.  Gadis asal Pontianak, Kalimantan Barat, itu lulus pada 30 Juni 2016 dengan predikat terbaik First Class Honours dari jurusan Teknik Material. Prestasi ini tidak main-main mengingat hanya lima persen mahasiswa yang berhasil lulus dengan predikat prestisius itu.  Semua itu diselesaikannya dalam waktu tiga tahun, lebih cepat

SINGAPURA, KOMPAS.com - Dewi Suryana tidak menyangka bakal meraih predikat bergengsi dan menjadi lulusan S-1 tercepat di Fakultas Teknik Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

Gadis asal Pontianak, Kalimantan Barat, itu lulus pada 30 Juni 2016 dengan predikat terbaik First Class Honours dari jurusan Teknik Material. Prestasi ini tidak main-main mengingat hanya lima persen mahasiswa yang berhasil lulus dengan predikat prestisius itu.

Semua itu diselesaikannya dalam waktu tiga tahun, lebih cepat dibanding rata-rata mahasiswa pada umumnya yang menempuh studi selama empat tahun.

Di tiap semester, kelahiran 9 September 1995 itu sanggup melahap hingga 27 satuan kredit semester (SKS). Mahasiswa lain rata-rata hanya mengambil 18-20 SKS.

Di dua semester pertamanya, Dewi menekuni 10 modul kuliah per semester dan semuanya dituntaskan dengan baik.

Talenta dan kepintaran Dewi sudah muncul sejak menempuh studi di SMP Immanuel, Pontianak. Saat itu ia mewakili Indonesia di dua lomba sains internasional.

Prestasinya terbukti dengan raihan medali perak di International Junior Science Olympiad (IJSO) di Baku, Azerbaijan, tahun 2009.

Penggemar ilmu kimia itu juga memboyong medali perak dari kejuaraan bergengsi International Chemistry Olympiad (ICHO) di Washington DC, Amerika Serikat, tahun 2012.

Keluarga sederhana

Dewi tumbuh dalam keluarga sederhana di Pontianak. Sehari-hari, ayahnya bekerja sebagai seorang tukang elektronik serabutan dengan penghasilan tidak menentu.

Ibunya bekerja membantu orang lain berjualan baju atau dodol durian. Keluarga mereka menumpang di rumah milik saudara ayahnya.

Ketika bersekolah di SMP Immanuel Pontianak, Dewi tidak pernah dibekali uang saku oleh orangtuanya. Rasa lapar ia lampiaskan dengan cara belajar.

Hal-hal lain yang diterapkannya adalah rajin bertanya ke guru dan membaca buku-buku di perpustakaan.

"Saya mengerti bagaimana sulitnya kehidupan kami, saya juga hampir tidak pernah ke kantin, jadi saya selalu belajar di jam istirahat. Sesampai di rumah, baru saya makan masakan ibu," kata Dewi saat ditemui Kompas.com di Singapura, awal September lalu.

"Bekal saya hanyalah 2 liter air untuk menghilangkan lapar dan dahaga selama belajar," ujarnya dengan mata memerah menahan air mata mengingat masa-masa sulit itu.

Ketika ditanya lebih jauh tentang menu makanan di rumah sehari-hari, apakah masih dalam kadar gizi yang sesuai, Dewi sempat terdiam dan menerawang sesaat.

"Jujur, sarapan biasa hanyalah nasi beserta telur atau ikan asin yang kemudian dituangkan banyak air untuk memberi rasa kenyang. Makan malam terkadang kita hanya makan mi instan karena itulah yang sanggup dibeli ayah dan ibu saya," tutur Dewi sambil terisak.

Keadaan ini semakin rumit karena ayahnya yang sudah tua serta sakit-sakitan dan tidak ada uang untuk berobat.

 

Berjuang meraih beasiswa

Kehidupan serba terbatas itu memotivasi Dewi untuk belajar lebih keras dan mencari beasiswa demi meringankan beban orangtuanya.

Ia berharap bisa lulus cepat supaya bisa bekerja mendapatkan uang untuk menafkahi orangtua dan saudara-saudaranya.

"Apa pun yang saya capai adalah demi keluarga, demi orangtua, dan kakak serta adik. Saya ingin mereka bahagia, saya ingin hidup saya memiliki arti yang berguna," kata anak kedua dari empat bersaudara tersebut.

Tekadnya membawa hasil. Dewi mendapatkan beasiswa sejak menempuh pendidikan di SMP Immanuel Pontianak.

Awalnya tidak mudah. Dia merasakan sulitnya bersekolah tanpa beasiswa dan ia sempat menunggak uang sekolah.

Untunglah Kepala SMP Immanuel Martin Teopilus membantunya dengan segera memberikan beasiswa agar dia dapat melanjutkan studi di sekolah tersebut.

Memasuki jenjang SMA, Dewi kembali memperoleh beasiswa di kelas bergengsi Brilliant Class di SMAK Penabur Gading Serpong. Kelas ini diperuntukkan bagi anak-anak berbakat yang dinilai memiliki kemampuan di atas rata-rata di bidang ilmu pengetahuan alam.

Saat duduk di bangku SMA inilah, Dewi mulai perlahan menjadi tulang punggung keluarga. Dia mulai mencari uang dengan pekerjaan sambilan sebagai guru les privat di rumah muridnya di kawasan Bintaro dan Gading Serpong.

Tanpa mengenal lelah, sosok yang enerjik ini juga bekerja sebagai pengajar paruh waktu di Wardaya College. Ini merupakan sebuah lembaga di mana murid-murid belajar untuk olimpiade atau mempersiapkan diri masuk ke universitas dalam maupun luar negeri juga sekaligus menyediakan situs belajar online atau e-learning gratis.

Walau tidak seberapa, penghasilan Dewi dari hasil mengajar dapat membantu keluarganya di Pontianak.

Semua kemampuan itu didapatnya dengan belajar secara otodidak. Kegemarannya pada ilmu kimia membuatnya demikian gandrung menekuni ilmu tersebut.

Gadis berkacamata ini bersyukur karena dianugerahi daya tangkap cepat untuk memahami pelajaran. Namun, itu saja tidak cukup. Harus ada ketekunan dan semangat kuat untuk mengerti hingga bisa.

Kepadanya, Kepala SMP Immanuel Martin Teopilus pernah berpesan, "Biarpun orang lain cuma butuh 1-2 jam untuk belajar, tapi kamu butuh 5-10 jam untuk hal yang sama, silakan saja menghabiskan waktu berjam-jam, 5 jam, 10 jam, untuk belajar asalkan sampai ngerti."

"Saya rasa itu hal yang tepat sepanjang kita tetap berkemauan," kata Dewi.

Di balik seluruh kisah kesuksesan akademik itu, Dewi mengatakan bahwa masa-masa getir dalam keluarganya tidak menjadi penghalang untuk mewujudkan cita-citanya sejak kecil.

Back to Top