main navigation
Head Line
Home
Kata Mahasiswa
Renungan New Year
Google Is My Sales
Kemunduran Komik..
Minat Baca .....
Artikel & Resensi
Tahun Baru
Ibu
Sinetron Lokal
Sang Pejabat
Rahasia Rahim
Resensi Harus Bisa
Semangat Baru
Cerpen Bola Ini Ki..
Puisi & News
Dimalam Hatiku
Cinta Sejati ku

Sang Sang Juara

Perayaan Natal
The Real Of Dajja
Gallery
 
main content
 


KENAPA KOMIK LOKAL
KALAH DENGAN KOMIK LuAR

            Sehari–hari ruang bacaan di negeriku ditaburi dengan komik–komik asing, yang masuk begitu saja tanpa memperhatikan dampak akibatnya.
            Fenomena ini tidak lepas dari sifat konsumtif dan kelenturan komik lokal yang masih dianggap kurang matang. Namun tak bisa dipungkiri, kecenderungan sikap pembaca komiklah yang terlalu berpengaruh, para penikmat komik cenderung untuk lebih menyukai sesuatu yang berbau asing. Mungkin karena ada rasa kurang kepercayaan terhadap para komikus Indonesia sendiri.
            Secara kasat mata, kita bisa melihat perubahan itu, di kala komik lokal sudah tidak memiliki tempat lagi di rumahnya sendiri. Komik luar menjamur, seperti serangan virus yang tak terkendali. Sangat miris dengan keberadaan komik lokal yang perlahan–lahan terbenam termakan persaingan pasar.
            Arti dari komik itu sendiri merupakan suatu bentuk seni, menggunakan gambar–gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk suatu cerita. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari komik strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri.
            Bila ditelusuri, menurut sejarah yang ada, Seorang sejarahwan bernama Marcel Boneff membagi perkembangan komik Indonesia menjadi beberapa fase evolusi, yaitu fase awal perkembangannya (1931-1954), pada fase itu komik Indonesia banyak diwarnai oleh kondisi masyarakat yang masih menunjukkan jiwa kenasionalisannya. Namun sangat disayangkan, Komik strip pertama Indonesia justru diterbitkan oleh media Cina peranakan, surat kabar Sin Po. Lalu, Kemudian pada fase kedua , yaitu pada fase budaya lokal (1954-1960).

By : red.lebih lengkap KLIK DISINI